ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
![]() |
Kisah
seperti itulah yang kini ramai dibicarakan sejumlah netizen di jagat Facebook.
Seorang
wanita tua mengaku terpaksa mengemis dan harus menyetor Rp 150.000 pada oknum
tertentu sebagai uang bensin dan sewa pakaian.
Netizen
bernama Vansyskha Purwanto membeberkan kisah miris wanita asal lereng Gunung
Semeru itu melalui akun Facebooknya, Minggu (19/3/2017).
Di
postingannya Vansyskha mengatakan, awalnya ia tak tega melihat wanita itu, yang
duduk bersandar di pagar sekolah anaknya dengan wajah pucat.
Akhirnya Vansyskha
mengajaknya ke rumah dan memberinya makan minum.
Setelah
berbincang beberapa saat, wanita tua itu bercerita mengaku terpaksa mengemis
agar bisa makan.
Suaminya
sudah meninggal dunia dan anaknya cacat sehingga juga harus mengemis.
Yang membuat
miris dari kisah wanita renta itu, ia mengaku harus setor Rp 150.000 pada oknum
tertentu sebagai uang bensin dan uang sewa pakaian.
Ia juga akan
diantarkan menggunakan mobil bersama sekitar 36 orang lainnya untuk mengemis.
Berikut
postingan lengkap Vansyskha.
"#renungan.
Saya menemukan simbah sepuh ini di siang yang terik sedang bersandar di pagar
sekolah anakku dengan wajah pucat dan badan gemetaran. Ketika saya tanya mbah
ini bilang haus. Akhirnya karena rumah saya dekat saya bawa pulang mbah ini ke
rumah untuk minum.
Ketika saya
tanya mbah itu bilang namanya mbah Giyem asalnya dari lereng Semeru dan bilang
kalau rumahnya pernah terbakar dan saya melihat banyak bekas luka bakar di
badannya. #ceritanya.
Suaminya
meninggal saat kebakaran itu dan anak lelakinya cacat tangan dan kakinya
diputus (mungkin diamputasi) dan anaknya menjadi pengemis juga di daerah Sukun
Malang. Sementara simbah itu bilang terpaksa juga mengemis karena perlu makan.
Simbah juga cerita ke sini rame-rame diantar mobil dan temannya ada sekitar 30
orang yang semuanya sudah berusia senja. Simbah cerita sehari harus setor 150 ribu
sebagai uang bensin dan sewa baju yang dipakainya. Bukankah ini termasuk
eksploitasi?
Di sisi lain
sebagai sesama manusia pasti nurani berontak melihat simbah setua itu yang
jalan sudah sempoyongan, pendengarannya jauh berkurang dan penglihatan yang juga
jauh berkurang harus berkeliling mengemis yang katanya untuk sekedar memenuhi
kebutuhan hidup. Tapi di sisi lain ada undang-undang yang menyatakan kita akan
didenda kalau memberi uang pada pengemis.
Saya bingung
membayangkan seandainya nenek itu keluarga saya betapa mirisnya. Saya tetap tak
tega melihat kondisinya. Setelah saya beri beberapa potong baju suami (maaf pak
Poer Wanto ga izin dulu urgent), kain jarit dan makanan serta uang ala kadarnya
simbah itu pamit saya sempat mau antar kemana tujuannya tapi simbah itu menolak
karena harus mengejar setoran mengemisnya.
Setelah
simbah itu berlalu saya termangu apapun alasannya bagaimana orang lain bisa
tega memanfaatkan orang tua yang sudah lemah fisiknya buat mengemis?
Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi fenomena ini?"
Sejumlah
netizen pun geram melihat postingan ini, karena orang setua itu masih saja
dieksploitasi.
Mereka
berharap agar oknum nakal tersebut segera ditindak oleh pihak berwenang.
"Sudah
sepuh masih dieksploitasi," komentar Anang Pink.
"Sungguh
biadab orang yang memanfaatkan kondisi orang-orang seperti ini, ada 36 orang
katanya," sahut Umi Jamilah.
Hingga
berita ini ditulis, Selasa (21/3/2017), TribunJogja.com masih mencoba
mengkonfirmasi Vansyskha, untuk bertanya lebih lanjut soal identitas wanita tua
itu. (Tribun Jogja/Say)

0 Response to "Tegaa sekali! Nenek Renta Ini Dipaksa Ngemis dan Harus Setor Rp 150 Ribu per Hari, Kepada Oknum xxx"
Posting Komentar