ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Dalam video tersebut, terlihat ada tiga skill tenaga dalam
yang dimiliki setiap personel, yaitu: kebal senjata, kebal bor listrik dan
dapat melumpuhkan lawan sebanyak 10 orang dalam waktu 3 menit.
Segala jenis senjata yang terbuat dari besi tidak dapat
menembus kulit. Hanya warna merah saja yang terlihat akibat terkena benda
tajam. Begitu juga dengan aliran listrik, dalam skala tertentu, badan mereka
akan tetap kebal dari sengatan listrik.
Biksu yang mendalangi pembantaian ratusan ribu muslim di
Rohingya ini berjanji akan membalas perlakuan muslim di Aceh terhadap umat
Buddha. Dikutip dari Aljazeera, Wirathu membanggakan pembunuhan massal yang
telah dilakukan para pengikutnya.
“Para biksu sudah dibekali kemampuan militer. Kami tidak
hanya akan mengusir umat muslim di Myanmar, tapi juga di Asia Tenggara ini.
Agar kedamaian tercipta abadi,” ancamnya.
Biksu bernama lengkap Ashin Wirathu itu
menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia
menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara
yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.
Biksu yang bertanggungjawab atas tewasnya ribuan muslim
Rohingya ini mengancam akan menyerang Aceh dan nelayan Indonesia yang ketahuan
berlayar di area mereka.
Sepuluh tahun lalu, publik belum pernah mendengar nama biksu
dari Mandalay tersebut. Pria kelahiran 1968 itu putus sekolah pada usia 14
tahun. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi biksu.
Nama Ashin Wirathu mencuat setelah dia terlibat dalam
kelompok ekstremis antimuslim “969” pada 2001. Karena aksinya, pada 2003 dia
dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan
tahanan politik lainnya.
Di Aceh, sebagaimana diketahui bahwa Untuk pertama kalinya
Qanun Jinayat atau peraturan daerah yang mengatur hukuman pidana di Aceh
diterapkan terhadap penganut Buddha. Eksekusi hukum cambuk itu dilakukan Jumat,
10 Maret 2017, terhadap dua orang penganut Buddha yang dituduh terlibat judi
sabung ayam.
Alem Suhadi, 57 tahun, dan Amel Akim, 60 tahun, adalah
keturunan etnis Cina dan termasuk minoritas Buddha. Mereka dicambuk di depan
puluhan pejabat lokal dan ratusan penduduk di Jantho, Kabupaten Aceh Besar,
Aceh.
Kedua pria itu meringis karena menerima masing-masing
sembilan dan tujuh cambukan di punggung mereka. Jumlah cambuk itu sudah
dikurangi karena mereka telah ditahan lebih dari satu bulan sejak polisi
menangkap mereka saat beradu ayam di Aceh Besar pada Januari 2017.
“Ketika mereka ditangkap, polisi menyita dua ekor ayam dan
uang taruhan Rp 400 ribu,” kata jaksa Rivandi Aziz.

0 Response to "Nasib Wirathu Akan Seperti Patung Ini, FPI tak gentar Dengan Pasukan Soulin Wirathu!!!!"
Posting Komentar